View Full Version
Selasa, 11 Oct 2016

Tim Agus-Sylvi Setuju dengan Bibit, Bobot, dan Bebet Cagub, Tim Ahok-Djarot Tidak

JAKARTA (voa-islam.com)- Bagi pasangan lain selain petahana, isu banjir dan macet nampaknya masih dijadikan primadona untuk menjaring suara di Pilkada DKI mendatang. Salah satunya datang dari paslon Agus-Sylviana melalui Tim Pemenangannya Eko Patrio.

Eko menyatakan bahwa Agus-Sylviana akan mencoba solusi bagi kedua persoalan yang ada hingga saat ini belum mampu terpecahkan. “Ya, kami akan pecahkan persoalan-persoalan yang hingga saat ini belum dipecahkan oleh Gubernur hari ini dan sebelumnya, yakni soal banjir dan macet di Jakarta,” sampainya, beberapa waktu lalu, di Cikini, Jakarta.

Di samping itu, ia yang memiliki nama lengkap Eko Hendro Purnomo ini setuju dengan pandangan bahwa untuk pasangan calon yang ada agar diketahui asal usul dan bibit, bobot, dan bebetnya. Bahkan itu mengapresiasi jika ada lembaga survey yang mengangkat hal demikian.

“Ya. Saya setuju jika calon Gubernur itu harus dilihat dari bibit, bobot, dan bebetnya. Malah saya mengapresiasi apa yang didapat lembaga survey soal itu,” akunya.

Termasuk bila Agus-Sylvi yang didata oleh lembaga survey bahwa, misal diragukan hal demikian maka itu menurutnya adalah masukkan yang sangat berharga. Juga itu ia katakan sebagai motivasi bagi Agus dan Sylviana. “Justru itu masukkan bagi kami. Itu juga motivasi bagi kami,” sambungnya.

Akan tetapi bagi Tim Pemenangan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yakni Guntur Romli tidak sependapat dengan Eko. Guntur mengatakan bahwa hal itu tidak dibutuhkan karena Pilgub ini bukan untuk memilih imam sholat atau calon menantu.

“Sebagai selera, ya silahkan saja memperhatikan asal dan usul. Juga silahkan perhatikan bibit, bobot, dan bebetnya. Tapi perlu diingat, kita ini bukan sedang memilih imam sholat. Kita juga bukan sedang memilih menantu yang harus diperhatikan bibit, bobot, dan bebetnya,” ucapnya.

Ia pun mengaku kehadiran lembaga survey itu sangat dibutuhkan untuk mengoreksi hal-hal yang dinilai masyarakat kurang. “Bicara survey itu kan bicara persepsi. Maka dari itu kami membutuhkan lembaga survey. Karena survey itu bagian dari alat untuk rekomendasi. Makanya saya setuju dengan adanya masyarakat yang memikirkan bibit, bobot, dan bebet dari masing-masing calon,” tutupnya. (Robi/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version