View Full Version
Sabtu, 17 Apr 2010

Irena Center: Bentengi Aqidah Umat

Sesungguhnya upaya pemurtadan (ajakan pindah agama) oleh non-Islam sudah terjadi sejak lama di dunia ini yang tidak akan pernah berhenti hingga akhir zaman. Dan Allah SWT pun telah memperingatkan kita dalam Al-Quran antara lain dalam surah Al-Baqarah: 120 dan surah An-Nisaa: 89
Namun gerakan pemurtadan di Indonesia baru terdengar menjelang tahun 2000-an.

Ini bisa jadi akibat dibukanya kran kebebasan berpendapat dan pers di era Reformasi sehingga ummat lebih mudah mendapatkan info-info seperti ini yang dahulunya tertutup karena masuk dalam kategori SARA dan dianggap berpotensi mengganggu stabilitas negara.

Berbagai macam modus pemurtadan telah dilancarkan. Dari pembangunan gereja-gereja liar, hingga cara penyebaran narkoba yang dilakukan oleh misionaris dari Yayasan Sekolah Tinggi Theologi (STT) Doulos, di Lembang, Bandung. Para pemuda diwilayah itu diberi minuman keras dan obat terlarang sampai kecanduan, setelah itu mereka disembuhkan di panti rehabilitasi Doulos sambil dicekoki dengan ajaran-ajaran Kristen. Serta modus pemurtadan berupa kesaksian palsu, selebaran dan buku-buku yang berkedok Islam, kegiatan-kegiatan sosial seperti di Aceh, Sumbar, Bekasi, dsb.

Seperti sebuah kebetulan, diwaktu yang hampir bersamaan tersebut upaya-upaya pendegradasian Islam melalui Jaringan Islam Liberal terjadi secara terbuka dan terang-terangan. Mereka menciptakan dan menyebarluaskan pemikiran bahwa ‘Semua Agama Sama’. Membuat buku-buku yang berisi pemikiran-pemikiran meliberalkan agama, kegiatan-kegiatan seperti Perayaan Natal Bersama, dukungan terhadap sejumlah aliran sesat, dsb yang kesemuanya bertujuan satu yaitu untuk mendangkalkan aqidah ummat Islam.

Fakta demikian banyak di lapangan tentang Pemurtadan yang secara umum dilakukan oleh misionaris Kristen dan Pendangkalan Aqidah yang dilakukan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) rupanya benar-benar membuka mata ummat Islam terhadap peringatan Allah SWT di surah Al-Baqarah : 120.
Tahun 2003 muncul buku Robert Morrey dengan judul The Islamic Invasion. Yang seharusnya buku ini dilarang diedarkan tapi oleh sekelompok oknum malah dibedah dalam sebuah seminar yang kemudian keesokan harinya buku ini sudah beredar luas di pasar buku pinggir jalan di Jakarta dengan harga jual tidak masuk akal, hanya Rp.5000,. Tak pelak buku ini menjadi laris bak kacang goreng.

Hujatan terhadap Islam yang awalnya hanya beredar di dunia maya namun semenjak itu menjadi perbincangan di dunia nyata. Hingga kemudian datanglah seorang ibu-ibu mualaf anggota sebuah Majlis Taklim kepada Hj.Irena Handono. Ibu tersebut mempunyai anak-anak remaja dan dia kesulitan menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang benar dan opini-opini yang bersumber dari tulisan Robert Morrey adalah fitnah. Dia hampir terpengaruh oleh tulisan buku tersebut dan hampir saja melepas aqidahnya akibat kecewa pada gambaran Islam yang disampaikan dalam buku The Islamic Invasion.

Dan berawal dari situlah Hj.Irena Handono menulis sebuah buku yang berjudul ISLAM DIHUJAT yang menjawab semua Fitnah Robert Morrey. Keprihatinan mendalam terhadap aqidah umat mendorong beliau mendirikan Irena Center sebagai sebuah lembaga yang mampu menghadang pemikiran-pemikiran yang berupaya menghancurkan Islam. Pada tanggal 27 Rajab 1425 H / 12 September 2004 berdirilah Yayasan dimuat dalam akta Notaris No 1 tertanggal 4 Oktober 2004 dibuat dihadapan H Syarif Siangan Tanudjaya SH, untuk jangka waktu yang tidak ditentukan lamanya.

Berlokasi di Perumahan Taman Villa Baru Blok D/5 Pekayon Jaya, Bekasi. Irena Center berasaskan Islam, bergerak dalam bidang dakwah Islam sebagai organisasi independen dan non pemerintah.
Peresmian Irena Center dilaksanakan pada hari Ahad tanggal 3 Oktober 2004 lalu bertempat di Masjid Raya Pondok Indah. Hadir pada kesempatan itu antara lain Sekretaris Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ust. Husein Umar (alm); Ketua Dewan Masjid, H.Sutarmadi, KH.Cholil Ridwan dari MUI, dan sejumlah tokoh umat yang lain.

Sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang dakwah Islam, pada aktivitasnya Irena Center memprioritaskan pada bidang Kajian Perbandingan Agama dan kegiatan pembinaan ummat Islam khususnya muallaf. Motto lembaga adalah Pembentengan Aqidah Ummat dan Pembinaan Muallaf. Alhamdulillah seiring dengan waktu Irena Center terus berkarya guna terwujudnya ummat Islam yang berkualitas yang selalu menyeru kepada Allah, bermanfaat bagi semesta alam dan terwujudnya generasi Qurani.
Eksistensi Irena Center diharapkan menjadi sebuah jalan bagi terwujudnya Islam sebagai Rahmat seluruh alam.

Pembina Muallaf

Sebagai lembaga Pembina Muallaf, Irena Center hadir di tengah ummat berusaha memahami kebutuhan muallaf. Muslim baru membutuhkan teman, tempat berlindung, dan juga pembimbing. Orang-orang yang baru saja hijrah ke dalam Islam, membutuhkan teman yang dapat memberi dukungan moril dan perlindungan dari kecaman keluarga. Perpindahan agama bukanlah perkara sederhana. Peristiwa ini bukan hanya melibatkan sebuah pribadi tapi juga sanak keluarga dan lingkungan sekitar.

Fokus pembinaan muallaf diarahkan pada empat hal.
Pertama adalah sterilisasi akidah dari pemahaman yang menodai fitrah. Kedua, sinkronisasi penyampaian pesan wahyu. Ketiga, stabilisasi menyampaikan ajaran Islam dengan metode dan cara penyampaian yang dapat dinalar dan diterima oleh hati nurani dan kelima. Standarisasi pengamalan wahyu.

Pembenteng Aqidah Ummat

Sebagai lembaga Pembentengan Aqidah Ummat, Irena Center bergerak aktif meng-counter fitnah terhadap Islam dan pemikiran-pemikiran liberal yang bertujuan mendangkalkan aqidah ummat. Pada tahun 2008, Hj.Irena Handono meluncurkan buku dengan judul MENYINGKAP FITNAH & TEROR. Buku yang sarat dengan data sejarah ini menjadi penjawab bagi kebingungan kita saat ini, siapa pencipta dan pelaku teror sesungguhnya.

Pada awal tahun 2009 menyikapi kekejaman luar biasa Israel pada muslim Palestina, Irena Center menggagas sebuah gerakan boikot produk AS, Israel dan semua pendukungnya. Di luar negeri gerakan yang didukung Fatwa Ulama Timur Tengah Yusuf Qardhawi ini sudah berjalan dan sukses memberikan tekanan ekonomi terhadap Israel. Dan Irena Center pada 7 Maret 2009 membentuk sebuah wadah bagi para professional muslim dengan nama Profesional Muslim Club.

Dan diawal tahun 2010 ini bersama kuasa hukum M. Ichsan, SH, MH dan A. Hendry Setiawan, SH, MH, Irena Center secara nyata turut menghadang upaya pencabutan kelompok liberal terhadap UU No. 1 PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penodaan Agama. Dalam persidangan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Yayasan Irena Center hadir sebagai pihak terkait yang berpendapat agar UU tersebut tetap dipertahankan untuk kemaslahatan ummat beragama.

Irena Center menjabarkan seluruh bukti-bukti konkret penodaan agama yang telah terjadi di masyarakat baik melalui media elektronik maupun cetak dalam sidang Mahkamah Konstitusi, 3 Maret 2010. Menurut hasil kajian Irena Center, sebagaimana yang disampaikan langsung oleh Hj.Irena Handono, pencabutan UU Penodaan Agama adalah upaya konspirasi besar untuk memecah NKRI.



Biografi Pendiri Irena Center:

 

Hj.Irena binti Handono, dilahirkan di Surabaya, tanggal 30 Juli 1954, dengan nama kecil Han Hoo Lie, kemudian menjadi Irena Handono. Hidup dilingkungan keluarga berada yang taat beragama Katolik di Surabaya Jawa Timur. Aktifitasnya di Gereja mendorongnya terpilih sebagai Ketua Legio Maria. Lembaga Katolik lain yang pernah digelutinya adalah Biarawati, Seminari Agung ( Institut Filsafat Teologia Katolik ) dan Universitas Katolik Atmajaya Jakarta. Ketertarikan dan keterlibatanya secara sungguh sungguh dalam dunia pemikiran khususnya perbandingan agama membuatnya dapat menerima cahaya Kebenaran Islam.


Tahun 1983 Masjid Al-Falah, Surabaya menjadi saksi sejarah. Dihadapan KH Misbach , seorang pahlawan dan Ketua MUI Jawa Timur saat itu dan di saksikan oleh seluruh Jama'ah, Irena Handono berikrar memasuki Agama Islam dengan mengucapkan dua kalimaty syahadat. Sejak saat itu semua atribut dan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama sebelumnya ditanggalkan dan dihilangkan.

Jika sebelumnya adalah taat di atas nilai Katolik, kini taat di atas nilai Islam. Hidupnya dipersembahkan dalam jalan dakwah, mengajak ummat agar bangga menjadi Muslim dengan menjalankan semua perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT. Sempurnanya rukun Islam ditaati ketika pergi haji pada tahun 1992, kemudian menjadi pembimbing haji enam tahun kemudian.

Kesungguhanya dalam dakwah diwujudkan melalui beberapa lembaga yang bisa menyalurkan visi dan misi hidupnya, diantaranya ICMI,PITI, AL-Ma'wa (Pembina Muallaf ) Surabaya, Pengasuh Majlis Ta'lim Al-Muhtadin Jakarta,Forum Komunikasi Lembaga Pembina Muallaf ( FKLPM ), Forum Gerakan Anti Pornografi dan Pornoaksi (FORGAPP), Lembaga Advokasi Muslim (LAM),Gerakan Muslimat Indonesia (GMI) dan (MAAI) Majlis Ilmuwan Muslimah se Dunia Cabang Indonesia. Irena Center melengkapi semua llembaga yang pernah didukungnya. 


latestnews

View Full Version