View Full Version
Kamis, 03 Jun 2010

Teroris Mendirikan negara Islam?

Muhasabah SI 91

Beberapa waktu lalu di Singapura Presiden SBY menyampaikan bahwa dirinya mendapat sms yang menyebut bahwa teroris yang akhir-akhir ini ditangkap di Pamulang, Pejaten, Solo dan sekitarnya adalah bertujuan mendirikan negara Islam .  Dan disinyalir bahwa mereka hendak membunuh presiden pada tanggal 17 Agustus nanti. 

Memang hampir tidak ada yang merespon pernyataan SBY tersebut.  Namun di lubuk hati umat Islam, khususnya para aktivisnya,  kiranya bertanya-tanya: betulkah para teroris yang lugu-lugu itu hendak mendirikan negara Islam?  Lalu negara Islam itu sendiri negara yang bagaimana? Konsepsi ideologinya bagaimana, konsepsi politik ekonomi, politik pemerintahan, politik pertahanan keamanan, dan politik luar negerinya bagaimana? Dan juga apakah konsepsi negara Islam itu lebih menjamin kesejahteraan rakyat atau tidak dibandingkan dengan konsepsi kenegaraan demokratis yang dijalankan secara praktis oleh presiden SBY sekarang?  Dengan system negara Islam apakah keadilan bisa ditegakkan atau kezaliman semakin merajalela dibandingkan system pemerintahan yang dikendalikan oleh presiden SBY sekarang?  Dan dengan system negara Islam apakah korupsi bisa diberantas tuntas atau malah lebih sempurna?

Kita masih bertanya-tanya apa maksud SBY melemparkan pernyataan bahwa para teroris itu bertujuan menegakkan negara Islam yang tentu dalam perspektif presiden SBY hukumnya haram dan harus diperangi para aktivis yang memperjuangkannya. 

Adalah tidak masuk akal kalau ada suatu kelompok yang ingin mendirikan negara dengan cara menebar terror kepada warga negara yang mayoritasnya memiliki pandangan hidup yang sama dengan kelompok yang menggunakan metode terror itu.  Barangkali satu-satunya negara yang pernah berdiri berkat aktivitas terror  hanyalah Israel.  Israel diproklamasikan oleh David Ben Gurion tahun 1948. 

Namun perjuangan bangsa Yahudi itu  telah dimulai dengan aktivitas terror yang mereka lakukan kepada kaum muslim penduduk Palestina sejak tahun 1920-an setelah kaum Yahudi bermigrasi ke negeri tersebut dengan fasilitas yang diberikan oleh militer Inggris yang menguasai wilayah Palestina pasca kemenangan Inggris atas Khilafah Turki Utsmani pada perang dunia pertama pada tahun 1917.  Jadi antara peneror dengan warga yang diteror tidak sebangsa dan seaqidah.  

Oleh karean itu, tidak bisa diterima oleh akal sehat kalau ada sekelompok muslim bersenjata bom yang terus-menerus main bom dengan tujuan menegakkan negara Islam.  Pasalnya para pengebom itu tidak dikenal oleh masyarakat muslim.  Lebih tidak masuk akal lagi ketika mantan Kepala BIN Hendro Priyono dan mantan Komandan Densus 88 Suryadarma dan seorang mantan petinggi JI asal Malaysia Nasir Abbas mengatakan bahwa Nurdin M Top dkk. menebar bom dan serangan bersenjata untuk menegakkan Khilafah di Indonesia lalu akan menyerang Malaysia dan Pilipinan untuk membentuk Khilafah yang meliputi wilayah Asia Tenggara.  Sebab orang yang disebut Noordin M Top itu sama sekali tidak dikenal oleh masyarakat muslim di Indonesia, bahkan oleh para aktivis dari parpol Islam maupun oramas-ormas Islam.  Apalagi Noordin itu warganegara Malaysia seperti Nasir Abbas.  

Jadi jelas tidak masuk akal kalau para “teroris” yang keberadaannya di negeri ini tidak dikenal luas dan tidak mengakar di tengah-tengah masyarakat itu bisa mendirikan negara Islam.  Jangankan mendirikan negara Islam, mengambil alih kekuasaan saja tidak akan bisa.  Logika mereka yang membuat pernyataan teroris akan mendirikan negara Islam itu jelas tidak nyambung (broken logic).  Sadar atau tidak sadar justru pernyataan tersebut telah menciptakan dua monster, yakni “Negara Islam” dan “Para Teroris Yang Hendak  Mendirikannya” yang datang yang sangat berbahaya.   Jadi siapa sebenarnya yang menebar terror?

Dalam pertemuan FUI membahas teroris beberapa waktu lalu, pakar aliran sesat Amin Djamaluddin mengisahkan pengalamannya bersama para 200 aktivis GPI pada tahun 1978 ditangkap dan dipenjara.  Mereka diciduk di Jakarta karena mau demo menentang kebijakan Suharto.  Ceritanya ada seorang kader yang dibilang keturunan tokoh DI bernama Suprapto dimasukkan kedalam GPI melalui Sekjen GPI waktu itu Zainuddin Q oleh mertuanya DM Hasan.  Suprapto ini langsung aktif dalam rapat-rapat GPI dan dialah yang menulis poster-poster provokatif terhadap pemerintahan Soeharto.  Namun malam sebelum demo ternyata Suprapto digelandang oleh sejumlah tentara Garnisun ibukota dan digiring ke kantor GPI dan tempat-tempat berkumpulnya para aktivis.  Semua ditangkap atas petunjuknya.  Belakangan diketahui bahwa Suprapto adalah anggota militer aktif.  

Apa yang terjadi di Aceh, Pamulang, Pejaten, dan Solo baru-baru ini tidak lepas dari peranan yang dimainkan oleh seorang disertir polisi bernama Sofyan Sauri, yang nempel kepada Ustadz AA yang dikenal sangat digandrungi anak-anak muda karena dianggap sangat anti thaghuut dan pro jihad.  Operasi intelijen seperti itu tentu punya motif, misalnya saja menjadi tabir asap kasus Century, menakut-nakuti agar tidak demo tolak Obama, atau agar tidak menentang kebijakan mencabut subsidi BBM yang mencekik rakyat!

Umat harus waspada (QS. An Nisa 71) terhadap operasi intelijen yang akan menghancurkan umat dan mengubur cita-cita mereka.  Wayamkuruuna wayamkurullah wallahu khairul maakiriin! Wallahul musta’an…


latestnews

View Full Version