View Full Version
Senin, 02 Aug 2010

Training ESQ, Bukan Training Biasa

Training ESQ tenyata bukan sekedar training biasa. Lebih dari itu, ajaran ESQ yang dikembangkan Ary Ginanjar menawarkan sebuah jalan hidup melalui konsep yang disebut The ESQWay 165.

Syaifullah (27 tahun) tersentak kaget ketika membaca visi dan misi ESQ (Emotional Spiritual Quotient) di website resmi ESQ Leadership Center yang beralamat di www.esqway165.com. Dalam website itu ditemukan bahwa misi ESQ adalah  “menyebarkan dan menjadikan The ESQWay 165 sebagai jalan hidup terbaik di muka bumi”.

“Astaghfirullahal adzim, yang benar aja masa ajaran ESQ mau dijadikan sebagai jalan hidup terbaik?”, ucapnya saat itu.

Baginya kalimat itu sangat dahsyat. Lelaki yang juga aktivis gerakan Islam itu merasa bahwa misi yang dibuat oleh ESQ LC itu bertentangan dengan Al Qur’an, terutama Surat Ali Imran ayat 85. “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Alumni ESQ Angkatan 52 itu sebelumnya hanya berpandangan bahwa kekurangan metode ESQ yang dikembangkan oleh Ary Ginanjar Agustian adalah tidak sampainya materi pelatihan kepada syariat Islam. ESQ dia pandang hanya bisa menyadarkan orang untuk beriman. “Setelah orang beriman kepada Allah, Ary tidak mengajarkan bahwa konsekuensi keimanan itu adalah terikat dengan syariat Islam”, jelas Syaifullah.

Ia masih ingat betul saat mengikuti training ESQ di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada tanggal 5-8 Oktober 2006 silam. Bersama dua orang temannya, kala itu ia menjadi delegasi dari sebuah gerakan dakwah yang ia ikuti. Beberapa keanehan ajaran ESQ sebenarnya sudah dirasakannya, namun tidak sampai membuat ia mendalami. Tetapi ketika pertengahan Juni 2010 Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran, pedoman dan paham ESQ LC yang dipimpin Ary Ginanjar, Syaifullah pun tersadar. Bahwa ajaran ESQ memang benar-benar sesat dan menyesatkan.

Syaifullah menceritakan ketika mengikuti training empat tahun silam, saat pembukaan Ary mengumumkan bahwa trainingnya bukanlah ceramah agama, karena itu boleh-boleh saja semua penganut agama mengikuti trainingnya. Selain itu peserta juga tidak boleh mengajukan pertanyaan. “Tapi Ary selalu membawa ayat-ayat Al Qur’an, bahkan mengajak peserta agar meneladani sifat-sifat Allah (Asmaul Husna). Ini kan kacau”, ungkapnya.

Kesesatan ESQ

Jika diteliti secara mendalam, sebenarnya kesesatan ajaran lembaga yang beridiri sejak 16 Mei 2000 itu sangatlah banyak. Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP Hizb Dakwah Islam (HDI) Ustadz Bernard Abdul Jabbar mencatat setidaknya ada 38 poin kesesatan ESQ. Sementara peneliti aliran-aliran sesat Ustadz Hartono Ahmad Jaiz menemukan setidaknya ada 27 penyimpangan. Catatan yang mereka berikan terhadap ESQ secara garis besar mirip dengan fatwa yang dikeluarkan oleh Mufti Malaysia.

Misi ESQ yang dinyatakan dalam kalimat “menyebarkan dan menjadikan The ESQWay 165 sebagai jalan hidup terbaik di muka bumi”, dinilai oleh mantan misonaris itu sebagai upaya Ary untuk membuat agama baru yang bernama Agama ESQ 165. “Jalan hidup terbaik itu hanya Islam, kalau dia buat ESQ sebagai jalan hidup (way of live), apa bedanya ESQ dengan Ahmadiyah?”, ungkap Bernard lantang.

Bernard bahkan menyuguhkan fakta bahwa ajaran ESQ adalah sinkretistik yang mencampurkan antara ajaran Islam, Kristen dan Hindu. “ESQ itu ajaran gado-gado”, tegasnya.

Ketua Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) Amin Djamaludin menyatakan bahwa ia telah melakukan penelitian terhadap ESQ sejak lama. Pada tahun 2009 lalu, Amin mengaku didatangi oleh tim dari Malaysia yang meminta penjelasannya seputar ESQ. “Saat itu saya sudah menyatakan bahwa ESQ memang menyimpang”, jelasnya di hadapan peserta Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK), di Jakarta, Kamis (29/10).

Menurut anggota Komisi Pengkajian MUI Pusat itu, penyimpangan terbesar yang dilakukan oleh Ary Ginanjar adalah menafsirkan makna Asmaul Husna. “Karena ini adalah kunci dan inti buku ini. Dalam buku ini, masalah Asmaul Husna merupakan kesimpulan akhir”, katanya sambil mengangkat buku ESQ yang ditulis Ary Ginanjar.
“Sebagai contoh, Asmaul Husna “Al-Muqsith” diartikan saya adil dalam menghukum. Bagaimana mungkin menyamakan keadilan Allah dengan keadilan manusia?”, lanjutnya.

Ungkapan itu menurut Amin adalah penyimpangan yang ingin menyaingi Allah SWT. “Sama kayak HMA Bijak Bestari yang dulu sering tampil di televisi tiap Sabtu mengobati orang. Bijak Bestari mengaku dirinya tuhan tertinggi di atas Allahu Akbar. Allahu Akbar setingkat di bawah dia. Hampir sama ESQ dengan HMA Bijak Bestari”, jelasnya.

Pengasuh Kajian Tauhid Radio DAKTA Ustadz Farid Okbah berpendapat senada dengan Amin. Menurut Ustadz Farid, kesalahan terbesar yang dilakukan oleh Ary Ginanjar adalah mendoktrinkan dalam buku maupun kajian yang ada di dalam forum itu supaya peserta  mengikuti akhlak Allah.
Dalam setiap kesempatan, Ary memang selalu membawakan hadits “Takhallaquu bi-akhlaaqillaah”. Padahal menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Al-Fawa’id itu adalah hadits palsu. Ungkapan tersebut bukanlah hadits Nabi, tapi ucapan Yahya bin Mu’adz. ”Karena ungkapan ini bukan hadits, maka tidak bisa dijadikan pedoman”, jelas Farid.

Kewajiban umat Islam adalah mengikuti akhlak Rasulullah. Mengikuti akhlak Allah adalah indikasi ajaran sufi. ”Inilah kesalahan dasar Ary Ginanjar yang harus diluruskan. Dan Ary Ginanjar harus melakukan koreksi total terhadap ESQ-nya sebelum menyebar lebih luas lagi”, tegas Alumni ESQ Angkatan 46 itu.

Sementara itu, meski belum sampai pada kesimpulan menyesatkan, Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat Dr. H. Anwar Ibrahim mengatakan bahwa ia mengkhawatirkan ajaran ESQ dengan sejumlah alasan. Diantaranya kelahiran ESQ 16 Mei 2000 lalu hampir bersamaan dengan kemunculan Jaringan Islam Liberal (JIL). Selain itu  Anwar juga mempertanyakan kemampuan Ary dalam penguasaan bahasa Arab (sebagai salah satu syarat untuk bisa memahami Al Qur’an) dan keahliannya dalam memahami literatur Islam.

”Gelagat Ary juga mencurigakan. Ia membaca Al Qur’an tapi bilang itu bukan dakwah. Lantas Al Qur’an ditempatkan dimana?, tanyanya.

Secara faktual, ajaran ESQ memang terpengaruh dari ajaran di luar Islam. Konsep ’Suara Hati’ jelas diambil dari kitab Injil (Yohanes 8:9, Matius 15:19), sementara konsep Zero Mind Process (ZMP) diambil dari ajaran Hindu yang dibawa oleh suami Vivekananda. Konsep Spiritual Quotient (SQ) sendiri adalah temuan seorang Yahudi bernama Danah Zohar. Konsep God Spot yang dianggap sebagai dimensi spiritual manusia sendiri merupakan temuan VS Ramachandran dan timnya dari California University AS. Dalam ESQ, 99 Asma Allah (Asmaul Husna) direfleksikan pada God Spot  sebagai Core Values (nilai inti).

Bukan hanya pengaruh dari agama lain, penulis buku ”Gerakan Theosofi di Indonesia”, Artawijaya, bahkan mensinyalir adanya pengaruh aliran kebatinan di dalam ESQ. Hal ini bisa diketahui dari pemakaian istilah dan isi dari Nilai Dasar ESQ yang disebut dengan 7 BUDI UTAMA. Tujuh Budi Utama ini di dalam ESQ merupakan nilai yang harus dipegang teguh dan tidak boleh dilanggar. Selain itu juga ada 7 Belenggu Pikiran dan Hati yang harus dibersihkan melalui Zero Mind Process (ZMP).

Bagi Arta, angka tujuh sangat berkaitan dengan ajaran aliran kebatinan yang disebut Martabat Tujuh yang disebarkan oleh aliran Wihdatul Hujud (salah satu aliran tasawuf yang menyimpang). Sementara kata BUDI UTAMA mengingatkan kita pada salah satu organisasi pergerakan yang didirikan para anggota Freemasonry di Indonesia, Boedi Oetomo. ”Kata itu dulu sangat dipersoalkan oleh tokoh-tokoh Islam. Karena terlalu mengagungkan budi”, jelasnya.

Dalam buku Bangkitnya Semangat Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918, sebagaimana yang dikutip oleh Artawijaya disebutkan bahwa pada tanggal 21 April 1904, sebuah koran Melayu-Jawa bernama ”Darmo-Kondo” yang terbit di Surakarta memuat karangan tanpa nama penulis berjudul ”Hal Budi Manusia”. Dalam tulisan itu dibahas tentang pengertian Budi. ”Diantara keagungan yang ada di dunia, tidak ada yang lebih agung daripada ”Budi”...orang berbudi yang tertidur lebih mulia dari pada si dungu yang shalat”.

Dalam buku yang dikarang oleh Akira Nagazumi itu juga ditulis bahwa  mereka yang menyebut ”Budi” sebagai puncak kegiatan moral manusia dan mengendalikan akal dan watak seseorang, adalah mereka yang mengamalkan kebatinan dan kejawen. Sementara para penganut kebatinan, pada masa itu, kerap melakukan pelecehan terhadap ajaran Islam.

Ary Ginanjar Membela Diri

Serangkaian aksi telah dilakukan oleh Ary Ginanjar dan timnya untuk menyelesaikan persoalan ini. Pada tanggal 13 Juli 2010, di Harian Umum Republika, Ary Ginanjar memasang iklan satu halaman penuh yang mengklaim bahwa ajarannya tidak menyimpang karena didukung oleh para tokoh agama di Indonesia dan Malaysia.

Untuk membuktikan klaimnya, pada hal

aman 25 koran nasional itu juga dipajang beberapa surat rekomendasi berbagai ormas yang menyatakan ajaran ESQ tidak sesat. Salah satu surat rekomendasi yang paling ditonjolkan adalah Surat Rekomendasi Dewan Dakwah Indonesia (DDII) Pusat. Belakangan diketahui bahwa  surat rekomendasi DDII itu tidak sah mewakili sikap resmi DDII. Dalam pernyataan resmi yang ditandatangani Ketua Umum Syuhada Bahri dan Sekretais Umum Abdul Wahid Alwi, Jum'at (17/7), DDII membantah telah mengeluarkan surat rekomendasi yang mendukung ESQ Ary Ginanjar.

Dukungan MUI yang diklaim oleh Ary Ginanjar juga dibantah oleh Ketua Komisi Fatwa MUI, Dr. H. Anwar Ibrahim. Menurut Anwar sampai saat ini MUI secara resmi belum mengeluarkan keputusan soal ESQ. “Jika dikatakan MUI mendukung ESQ, Itu baru pernyataan salah satu pengurus MUI”, ujarnya.

Selain itu, Ary juga menemui Amin Djamaludin. Pertemuan dilakukan pada hari Sabtu, 17 Juli 2010 pukul 10.00 WIB di Kantor LPPI. Kepada Amin, Ari mengaku menghargai dan berterima kasih atas saran yang diberikan secara langsung. ”Yang dikritisi oleh Pak Amin adalah buku ESQ bukan training ESQ”, ujar Ary.

Sementara pada Diskusi FKSK (29/7) Amin mengaku dalam pertemuannya dengan Ary ia menjelaskan tentang kesesatan ESQ berkaitan dengan Suara Hati dan Konsep Zakat serta meminta Ary agar mengumumkan kesesatannya itu di sejumlah media. ”Jadi saya bukan sekedar mengkoreksi kesalahan redaksional sebagaimana isi surat yang dikirimkan pada saya”, jelasnya. Amin juga ditawari untuk menjadi Tim Penyusun Buku ESQ untuk edisi berikutnya.

Pada hari Selasa (20/7) pukul 18.30 - 20.00 WIB di Meeting Room Radio DAKTA Jl. KH. Agus Salim Bekasi juga diadakan pertemuan antara Ary Ginanjar dengan Ustadz Farid Okbah. Dalam pertemuan itu Ustadz Farid juga mengungkapkan sejumlah kesesatan dalam ajaran ESQ. Menurut salah satu saksi yang hadir dalam pertemuan itu, Wildan Hasan, sangat jelas dan terang Ary Ginanjar menerima semua koreksi Ustadz Farid dan berjanji akan memperbaiki kekeliruan-kekeliruannya. Menurut Wildan, Ary juga menawarkan pada Ustadz Farid untuk berkunjung ke Amerika Serikat.

Selain bergerilya menemui tokoh-tokoh Islam, para alumni ESQ juga ramai-ramai membela bekas ’almamater’ mereka. ”Apa yang sesat dari ESQ, apa ada dari kami yang mengingkari sholat, tidak membayar zakat, dan tidak puasa?. Lagian itu kan hanya satu orang mufti, masih banyak mufti lain yang mendukung ESQ”, begitulah pembelaan mereka di forum diskusi FKSK, Kamis (29/7) lalu. Bahkan seorang anggota Dewan Penasehat FKA ESQ, Iskandar Zulkarnain, terang-terangan mengajak para peserta ESQ untuk mengikuti training ESQ secara gratis. Iskandar bahkan mendatangi host FKSK, Luthfie Hakim, agar mengumumkan hal itu kepada peserta. Kontan permintaan itu ditolak oleh Luthfie.

Ungkapan para Alumni yang membabi buta itu persis dengan pernyataan Ary Ginanjar dalam konferensi pers dengan sejumlah wartawan media Islam pada hari Sabtu (17/7) ketika ditanya tanggapannya tentang tudingan bahwa ESQ sesat ia menjawab:

”Kriteria sesat yaitu apabila mengubah, menambah, atau mengurangi Rukun Islam dan Rukun Iman. Di ESQ tidak ada perubahan sama sekali akan hal itu. Justru banyak orang yang tidak membaca syahadat, jadi bersyahadat. Yang tadinya tidak shalat dan puasa, jadi rajin shalat dan puasa. Yang mampu jadi rajin membayar zakat dan pergi haji. Shalat wajibnya tetap lima waktu, menghadapnya tetap kiblat, puasa wajibnya tetap di bulan Ramadhan, hajinya tetap pergi ke Mekkah. Semua sesuai aqidah dan syariah Islam”.

Tentu saja pernyataan ini sangat menggelikan. Rupanya ia tidak paham kritera sesat yang telah diumumkan. Sebab kriteria aliran sesat yang ditetapkan MUI, bukan soal ingkar terhadap rukun Iman dan rukun Islam saja, tetapi juga menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah tafsir. Soal kebenaran juga bukan soal angka, berapa lawan berapa, tetapi soal kekuatan hujah.

“Ingat, sedikit dan banyaknya orang tidak menjadi ukuran suatu kebenaran. Kata Ali bin Abi Thalib, “Ukuran kebenaran tidak diukur dengan banyaknya orang. Tapi kenalilah kebenaran, niscaya kamu akan tahu siapa yang di atas kebenaran itu”, kata Ustadz Farid Okbah.

Bukan Training Biasa

Training ESQ memang bukan training Sumber Daya Manusia (SDM) biasa. Training ini menawarkan jalan hidup. Bahkan jalan hidup itu akan disebarluaskan.”Setelah membaca buku ESQ ini secara jelas, saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa ESQ bukan model pelatihan SDM biasa”, ujar seorang penulis AM Waskito.

Warsito membuktikan pernyataannya didasarkan atas buku ESQ karya Ary Ginanjar halaman 14. Dalam buku itu Ary menulis:  Di posisi inilah ESQ tampil menjawab permasalahan tersebut. ESQ sebagai sebuah metode dan konsep yang jelas dan pasti, adalah jawaban dari kekosongan batin sang jiwa. Ia adalah konsep universal yang mampu menghantarkan seseorang pada ‘predikat memuaskan’ bagi dirinya sendiri, juga bagi sesamanya. ESQ pula yang dapat menghambat segala hal yang kontra-produktif terhadap kemajuan umat manusia.”

Menurut Warsito, melalui kalimat itu Ary Ginajar seolah memiliki agenda untuk mereformasi ajaran Islam. Ajaran Islam dianggap membutuhkan konsep ESQ-nya, agar ia menjadi “The Way of Life” bagi kaum Muslimin. Padahal sejak lama, sebelum Ary menemukan hidayah, para ulama Islam sudah menyebut agama ini sebagai Minhajul Hayah (metode kehidupan manusia). ”Kalimat Ary Ginanjar itu sangat pekat bermakna: missi, arogansi, sekaligus penyesatan opini”, ungkapnya.

Karena itu, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH. Muhammad Al Khaththath menasehati agar Ary Ginanjar segera ruju’ ilal haq (kembali ke jalan yang benar) dan menghadapi segala kritikan dengan senyum. ”Kita mengkritik itu sebagai tanda sayang. Jangan sampai di akhirat kelak kita ditanya oleh Allah Swt, ini saudaramu sesat kok tidak kamu ingatkan. Ahmadiyah saja kalau ruju’ ilal haq kita terima, apalagi Ary Ginanjar”, ujar alumni ESQ Angkatan 36 itu.

Menurut Al Khaththath, mengakui kesalahan tidak akan merendahkan derajat dan martabat,  sebaliknya akan mengangkat derajat. Ary Ginanjar hendaknya mencontoh seorang ulama madzhab Syafi’i yang bergelar Shultanul Ulama, Syaikh Izzudin Abdul Aziz bin Abdus Salam ketika suatu waktu memfatwakan sesuatu yang di kemudian hari keliru. Beliau kemudian mengkoreksi sendiri fatwanya itu di tengah-tengah kota Kairo. Untuk saat ini mengkoreksi ajaran yang menyimpang caranya jauh lebih mudah dibandingkan dengan jaman Syaikh Izzudin. "Mumpung nasi belum menjadi bubur", tutupnya.
(shodiq ramadhan, dari berbagai sumber)


latestnews

View Full Version