


Aman (SI ONLINE)-Bersamaan dengan meluasnya aksi demo di Mesir, pemerintah Yordania menyatakan bubar.
Sebagaimana dilaporkan Televisi Aljazeera, Perdana Menteri Yordania, Samir Al-Rifai, menyatakan mengundurkan diri. Dengan pengunduran dirinya, pemerintah Yordania dengan sendirinya bubar. Pengunduran diri itu dilakukan bersamaan dengan seruan aksi demo jutaan di Mesir.
Sumber-sumber pemberitaan melaporkan, "Setelah Al-Rifai mengundurkan diri, Raja Abdullah II menunjuk Marouf Bakhit sebagai Perdana Menteri supaya membentuk kabinet baru." Raja Abdullah II juga meminta Bakhit supaya segera membentuk pemerintah dan melakukan sederet perombakan politik.
Revolusi di Tunisia memicu reaksi berantai di seluruh dunia Arab dan sebagian rakyat Arab terinspirasi oleh gerakan anti-rezim diktator di Tunisia. Demonstrasi massif telah digelar di Yaman, Mesir, Aljazair, dan Yordania. Terdapat pula demonstrasi dalam skup yang lebih kecil Arab Saudi, Mauritania, Oman, Sudan, dan Libya. Pada tanggal 14 Januari, para pendemo di Yordania menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Jordania Samir Rifai dan kabinet.
Sebelumnya, Majalah Foreign Policy dalam laporannya (26/1) membahas kondisi lima negara Arab yang diperkirakan akan menghadapi gelombang protes massif pasca tumbangya rezim diktator Tunisia pimpinan Zine Al-Abidine Ben Ali. Mesir, Aljazair, Libya, Sudan dan Yordania merupakan lima negara yang dinilai sangat rentan terhadap protes rakyatnya dan terancam runtuh.