View Full Version
Rabu, 05 Aug 2026

Teguran Allah kepada kepada Orang yang Dia Cintai

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.  

Tidak semua teguran adalah tanda kebencian. Terkadang, sebuah kesulitan, kegelisahan, atau bahkan musibah yang Allah hadirkan dalam hidup seorang hamba justru merupakan bentuk kasih sayang-Nya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

فَيُؤَدِّبُ اللهُ عَبْدَهُ المُؤْمِنَ الَّذِي يُحِبُّهُ، وَهُوَ كَرِيمٌ عِنْدَهُ، بِأَدْنَى زَلَّةٍ أَوْ هَفْوَةٍ؛ فَلَا يَزَالُ مُسْتَيْقِظًا حَذِرًا

"Allah mendidik hamba-Nya yang beriman yang Dia cintai, padahal ia memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya, karena sebab kesalahan kecil atau kekhilafan yang ia lakukan. Karenanya, ia senantiasa berada dalam keadaan sadar dan waspada." (Zādul Ma‘ād, 3/506)

Seorang hamba yang dicintai Allah bukan berarti tidak pernah salah. Namun ketika ia tergelincir dalam kesalahan, Allah segera mengingatkannya agar ia kembali. Hatinya dibuat gelisah ketika jauh dari ketaatan, dosanya terasa berat, dan ia terdorong untuk segera bertaubat. Itulah bentuk penjagaan Allah.

Sebaliknya, bahaya terbesar adalah ketika seseorang terus melakukan dosa, tetapi hatinya tidak lagi merasa bersalah. Bahkan, ia dikelilingi kemakmuran duniawi.

Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan:

أَمَّا مَنْ سَقَطَ مِنْ عَيْنِهِ وَهَانَ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّهُ يُخَلِّي بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَعَاصِيهِ، وَكُلَّمَا أَحْدَثَ ذَنْبًا أَحْدَثَ لَهُ نِعْمَةً، وَالْمَغْرُورُ يَظُنُّ أَنَّ ذَلِكَ مِنْ كَرَامَتِهِ عَلَيْهِ، وَلَا يَعْلَمُ أَنَّ ذَلِكَ عَيْنُ الإِهَانَةِ

"Adapun orang yang telah jatuh dari pandangan Allah dan menjadi hina di sisi-Nya, maka Allah membiarkannya bersama kemaksiatan-kemaksiatannya. Setiap kali ia melakukan dosa, Allah memberikan kepadanya sebuah nikmat. Orang yang tertipu mengira bahwa hal itu adalah bentuk kemuliaan Allah kepadanya, padahal ia tidak menyadari bahwa sebenarnya itulah bentuk kehinaan baginya."

Betapa banyak manusia yang ketika mendapatkan kelapangan setelah berbuat dosa merasa bahwa dirinya sedang dimuliakan Allah. Padahal bisa jadi itu adalah bentuk istidrāj; Allah membiarkannya menikmati berbagai nikmat sementara ia semakin jauh dari-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ ۝ وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ

"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (menuju kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh." (QS. Al-A‘raf: 182–183)

Maka jangan ukur kasih sayang Allah hanya dari banyaknya nikmat dunia yang kita terima. Ukuran terbesar adalah: apakah nikmat itu membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya?

Berbahagialah orang yang ketika ditegur Allah, hatinya masih bisa menangis. Karena air mata taubat lebih baik daripada kelapangan dunia yang membuat seseorang lupa kepada Rabb-nya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang selalu peka terhadap teguran-Nya, segera kembali ketika melakukan kesalahan, dan tidak termasuk orang-orang yang tertipu oleh nikmat yang menjauhkan dari-Nya. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan perlindungan. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version