

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Istighfar bukan sekadar ucapan di lisan. Ia adalah sikap seorang hamba yang mengakui dosa, menyesalinya, dan kembali kepada Allah dengan memohon ampun kepada-Nya.
Di antara amalan yang ringan dikerjakan tetapi memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seorang Muslim adalah istighfar. Karena, seorang hamba tidak pernah lepas dari kekurangan, kesalahan, dan dosa. Karena itu, ia membutuhkan istighfar setiap saat.
Allah Ta'ala berfirman melalui perkataan Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada kaumnya:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)
Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar memiliki kedudukan yang agung. Nabi Nuh ‘alaihissalam mengajak kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah, kemudian menyebutkan berbagai karunia yang Allah berikan kepada mereka.
Istighfar dan kemudahan rezeki
Banyak orang ketika mengalami kesulitan ekonomi segera memikirkan bagaimana mencari tambahan penghasilan. Hal itu tentu baik selama dilakukan dengan cara yang halal. Namun, seorang Muslim tidak boleh melupakan sebab yang jauh lebih penting: memperbaiki hubungan dengan Allah. Dan istighfar merupakan salah satu bentuk kembali kepada Allah dan menjalin hubungan baik kepada-Nya.
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:
مَنْ اتَّصَفَ بِصِفَةِ الاسْتِغْفَارِ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ رِزْقَهُ، وَسَهَّلَ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَحَفِظَ عَلَيْهِ شَأْنَهُ وَقُوَّتَه
“Barang siapa memiliki sifat istighfar, Allah akan memudahkan rezekinya, memudahkan urusannya, serta menjaga keadaan dan kekuatannya.”
Artinya, seorang Muslim hendaknya menjadikan istighfar sebagai bagian dari kehidupannya. Bukan hanya ketika sedang menghadapi masalah, tetapi juga ketika mendapatkan kelapangan.
Jangan Sekadar Banyak Mengucapkan “Astaghfirullah”
Istighfar yang bermanfaat bukan sekadar memperbanyak ucapan أَسْتَغْفِرُ اللهَ sementara seseorang tetap sengaja bergelimang dalam dosa.
Istighfar yang benar mengandung pengakuan atas kesalahan dan keinginan untuk kembali kepada Allah. Karena itu, istighfar semestinya mendorong seseorang meninggalkan maksiat dan memperbaiki amalnya.
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedangkan mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 135)
Perhatikan bagian akhir ayat tersebut: mereka tidak terus-menerus melakukan dosa. Berarti, istighfar harus melahirkan perubahan. Minta ampun kepada Allah disertai dengan sikap meninggalkan dosa dan Kembali kepada Allah dengan ketaatan.
Ketika Urusan Terasa Sulit
Kita semua pernah berada dalam keadaan ketika urusan terasa berat. Rezeki terasa sempit, pekerjaan menemui jalan buntu, hati diliputi kegelisahan, atau seseorang bingung menentukan langkah.
Dalam keadaan seperti itu, jangan hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri. Perbanyaklah kembali kepada Allah dengan istighfar, doa, dan taubat.
Sebab, yang memberikan rezeki adalah Allah. Yang membuka jalan keluar adalah Allah. Yang memberikan kekuatan juga Allah.
Karena itu, memperbanyak istighfar merupakan salah satu bentuk ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Istighfar tidak berarti meninggalkan usaha. Seorang Muslim tetap bekerja, mencari nafkah, berobat ketika sakit, bermusyawarah ketika menghadapi persoalan, dan mengambil berbagai sebab yang dibenarkan syariat. Namun, semua usaha itu disertai ketergantungan kepada Allah.
Jadikan Istighfar Sebagai Kebiasaan
Jangan menunggu dosa terasa berat baru beristighfar. Jangan pula menunggu masalah datang baru mengingat Allah. Biasakan lisan untuk beristighfar setiap hari.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”
Semoga istighfar yang kita ucapkan bukan sekadar gerakan lisan, tetapi benar-benar lahir dari hati yang mengakui kelemahan, menyesali dosa, dan ingin kembali kepada Allah.
Sebab, ketika seorang hamba memperbaiki hubungannya dengan Allah, ia sedang menempuh salah satu jalan menuju perbaikan kehidupannya. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]