View Full Version
Senin, 26 Oct 2026

Jangan Sia-siakan Pahala Sebesar Gunung!

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.

Di antara bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya adalah besarnya pahala yang disediakan untuk amal-amal yang terkadang dianggap sederhana. Salah satunya adalah menghadiri jenazah seorang Muslim sehingga dishalatkan dan dimakamkan.

Amalan ini bukan sekadar bentuk penghormatan terakhir kepada saudara seiman. Di dalamnya terdapat pahala besar yang dijanjikan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Beliau bersabda:

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

“Barang siapa menghadiri jenazah hingga dishalatkan, maka baginya satu qirath. Dan barang siapa menghadirinya hingga jenazah itu dimakamkan, maka baginya dua qirath.”

Ditanyakan, “Apakah yang dimaksud dengan dua qirath itu?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bayangkan, pahala yang begitu besar hanya dengan menghadiri pengurusan jenazah, mengikuti shalat jenazah, dan mengantarkannya hingga pemakaman. Tentu saja, amalan ini dilakukan dengan ikhlas karena Allah, bukan sekedar menggugurkan kewajiban sosial.

Penyesalan Ibnu Umar

Besarnya pahala tersebut membuat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma merasa sangat menyesal ketika mendengar hadits ini dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Ia berkata:

لَقَدْ فَرَّطْنَا فِي قَرَارِيطَ كَثِيرَةٍ

“Sungguh, kita telah kehilangan banyak qirath pahala.”

Perkataan ini menyimpan pelajaran berharga. Seorang sahabat Nabi -Shallallahu 'Alaihi Wasallam- yang dikenal dengan kesungguhan mengikuti sunah saja merasa khawatir telah melewatkan begitu banyak kesempatan memperoleh pahala.

Lantas, bagaimana dengan kita yang sering kali melewatkan kesempatan beramal karena sibuk dengan urusan dunia, merasa tidak sempat, atau menganggap suatu amalan tidak seberapa?

Kesempatan Berlalu, Pahala Besar Melayang

Kehidupan dunia begitu singkat, sedangkan kebutuhan kita terhadap amal saleh sangat besar. Setiap hari, kesempatan berbuat baik terbuka di hadapan kita. Namun, tidak semua kesempatan itu akan terulang.

Karena itu, jangan meremehkan amal yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya. Menghadiri shalat jenazah, membantu mengurus pemakaman, menjenguk orang sakit, bersedekah, dan berbagai amal kebajikan lainnya merupakan kesempatan untuk menambah bekal akhirat.

Jangan sampai kita baru menyadari besarnya nilai suatu amalan setelah kesempatan melakukannya berlalu.

Kisah Ibnu Umar mengajarkan agar seorang Muslim tidak hanya bersemangat ketika mendengar janji pahala, tetapi juga segera mengamalkannya selama kesempatan masih terbuka.

Dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat memetik hasilnya. Maka, marilah memperbanyak amal saleh dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, menjaga keikhlasan, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang peka terhadap peluang kebaikan dan mengaruniakan kepada kita husnul khatimah. Aamiin. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version