View Full Version
Jum'at, 26 May 2017

Afiliasi Al-Qaidah Telah Lancarkan 101 Serangan Sejak Januari 2017 di Seluruh Afrika Barat

TIMBUKTU, MALI (voa-islam.com) - Afiliasi Al-Qaidah di Afrika Barat telah melancarkan setidaknya 101 serangan di seluruh wilayah tersebut sejak awal Januari, menurut data yang dikumpulkan oleh FDD's Long War Journal.

Faksi utama Al-Qaidah di Afrika Barat, Jamaat Nasrul Islam wal Muslimin (JNIM), dibentuk awal tahun ini dan terdiri dari beberapa kelompok jihad yang berbasis di Mali yang sudah berada dalam jaringan Al-Qaidah.

Ini termasuk Al-Qaidah di Maghreb Islam (AQIM) cabang Sahara, Ansar Dine, Al Murabitoon dan Katibat Macina (juga dikenal sebagai Front Pembebasan Macina).

JNIM dipimpin oleh jihadis veteran Tuareg, Iyad Ag Ghaly, dan secara terbuka menyatakan kesetiaan kepada Abdelmalek Droukdel, pemimpin AQIM, dan Syaikh Ayman al Zawahiri.

Sebagian besar serangan sepanjang 2017 telah terjadi di Mali, di mana Al-Qaidah telah melancarkan pemberontakan tingkat rendah sejak 2013 setelah intervensi Prancis mulai mengusir para jihadis dari utara.

Di Mali, sebagian besar serangan terjadi di daerah utara yang bergolak. Ini termasuk setidaknya 21 di Kidal, 15 di Gao, dan 13 di Timbuktu.

Namun, 38 lainnya telah terjadi di bagian selatan atau tengah negara tersebut. Aliran serangan jihadis ke arah selatan merupakan tren yang terus berlanjut yang dimulai pada 2015. Pada tahun 2015, setidaknya ada 30 serangan terkait Al-Qaidah di Mali selatan atau tengah.

Tahun lalu, setidaknya ada 58 dan angka tahun ini naik ke atas yang mengindikasikan adanya peningkatan yang signifikan.

Ekspansi ini tidak luput dari perhatian saat misi penjaga perdamaian PBB di Mali telah menciptakan kekuatan intervensi cepat yang secara khusus ditujukan ke Mali tengah.

Selain itu, Human Rights Watch (HRW) telah merinci tingkat kontrol jihadis di Mali tengah. Dalam sebuah laporan baru, HRW mengutip seorang tetua setempat yang mengatakan bahwa "para pelaku jihad adalah hukum sekarang." Sementara warga lain dilaporkan mengatakan bahwa "pada saat operasi yang didukung oleh Prancis selesai, kelompok Islamis kembali ke desa-desa."

Sebuah laporan Reuters baru-baru ini Laporan juga mencatat bahwa kekerasan di Mali tengah telah memaksa penutupan "ratusan sekolah."

Sejauh tahun 2017, mayoritas serangan (51) telah datang dalam bentuk penyerbuan, bentrokan, atau pembunuhan. 29 lainnya berasal dari alat peledak improvisasi, sementara 11 lainnya berasal dari roket atau mortir.

Setidaknya ada delapan kasus penculikan yang terkait dengan jihadis (walaupun jumlah ini kemungkinan lebih tinggi) serta dua pemboman jibaku.

Pasukan keamanan Mali adalah sasaran yang paling umum untuk serangan ini, tapi ini diperkirakan karena pasukan Mali mengambil peran lebih besar.

Pasuka PBB adalah yang yang paling umum kedua, sementara pasukan Prancis paling jarang ditargetkan.

Di luar Mali, setidaknya ada delapan serangan di Burkina Faso utara, lima di Niger, dan satu lagi di Mauritania di perbatasan dengan Mali.

Sementara ini terjadi di luar Mali, serangan dilakukan atau dikaitkan dengan jihadis berbasis di Mali.

Banyak serangan di Burkina Faso dianggap sebagai karya Ansaroul Islam, sebuah kelompok jihad yang baru terbentuk.

Ansaroul Islam diduga dipimpin oleh sekutu Kouffa, pemimpin Katma Macina dari Ansar Dine.

Meski tidak dikonfirmasi, Ansaroul Islam mungkin adalah cabang Ansar Dine Burkina Faso.

Tahun lalu, FDD's Long War Journal mencatat lebih dari 250 serangan terkait Al-Qaidah di Afrika Barat.

Jumlah tahun ini diperkirakan akan sesuai jika tidak melebihi jumlah tersebut. Kapasitas operasional Al-Qaidah di Mali dan wilayah Afrika Barat yang lebih luas tetap utuh dan berkembang.

Bagaimanapun, entitas bersatu Ghaly memiliki ancaman keamanan utama tidak hanya di Mali, tapi juga di sebagian besar wilayah Afrika Barat - jauh di luar perbatasan Mali. (st/tlwj) 


latestnews

View Full Version