View Full Version
Kamis, 06 Aug 2009

Afghanistan Menjadi Korban Sistem Demokrasi

Kabul - Delapan tahun setelah invasi AS yang menjanjikan kemajuan dan kebebasan, orang-orang Afghanistan melihat demokrasi barat berarti ketidak-senonohan dan perzinahan.

"Saya melihat tanda-tanda demokrasi dikalangan para penganutnya adalah memperlihatkan ketiak dan leher," kata Mansoor Aslami, 21, pemilik toko kosmetik, kepada AFP pada hari Selasa tanggal 4 Agustus 2009.

Ia juga mendefinisikan demokrasi sebagaimana ditunjukkan oleh para pemuda dan pemudi yang berjalan bergandengan tangan di jalanan tanpa rasa malu.

Banyak orang-orang Afghan di provokasi oleh budaya asing yang menyerang negara bersamaan dengan masuknya Amerika pada tahun 2001 untuk menggulingkan Taliban.

"Aku tidak tahu apa artinya demokrasi," kata Noor Ali, 81, penduduk Kabul. "Saya hanya tahu ketika aku menegur seorang wanita 'mengapa kamu keluar rumah hampir bertelanjang ?' Dengan santai perempuan tadi menjawab 'inilah demokrasi paman', cerita Noor Ali yang duduk didepan tokonya yang menjual minyak.

Kebanyakan di 13 televisi swasta Afganistan menyajikan musik dan film barat. Hal ini pernah mengundang kritik masyarakat yang menganggap acara-acara yang ditayangkan tidak Islami.

Sebagian televisi kabel bahkan sudah dilarang oleh pemerintah setelah banyak keluhan dari Dewan Ulama yang menyatakan bahwa program televisi sangat tidak sopan dan tidak bermoral.

"Demokrasi barat adalah kebebasan dan perzinahan," ujar Wasim, 28, seorang pelayan di restoran kebab.

Afghanistan mengenal demokrasi pada tahun 1960an dan 1970an dengan menyelenggarakan pemilihan terbatas anggota parlemen, akan tetapi percobaan itu dihentikan oleh invasi Soviet pada tahun 1979 yang menciptakan perang sipil selama beberapa dekade dan intervensi asing.

Pada tahun 1996-2001 pemerintahan Taliban melarang musik dan tari-tarian, memerintahkan setiap laki-laki untuk tidak mencukur janggutnya, mewajibkan para wanitanya mengenakan burka (jilbab yang menutup seluruh wajah dan tubuh), dan melarang anak-anak perempuan bersekolah.

Demokrasi Busuk

Tetapi perubahan yang tiba-tiba yang diikuti dengan tindakan pengusiran Taliban mengejutkan kaum konservatif di pedesaan.  

Ali, orang tua Kabul, sangat kritis terhadap budaya baru yang menyapu bersih beberapa kebiasaan masyarakat.

"Apakah ini yang dikatakan demokrasi ? Berdansa-dansi, berpakaian ketat dan transparan, sungguh menjijikan" gerutunya. "Kalau begitu, demokrasi harus ditolak."

Wasim menyetujui pernyataan orang tua tadi. Katanya, "Ini adalah demokrasi yang hanya cocok di Barat, orang Amerika dan Eropa mengembangkan demokrasi ala mereka disini."

Wahid Mujda, seorang analis, mengatakan kecenderungan yang menyelisihi Islam dan budaya kaum konservatif Afghan sering menyebabkan kebingungan.

"Ketika kita bertanya kepada orang-orang apakah demokrasi itu, mereka akan mengatakan demokrasi itu adalah kekurang-ajaran dan tidak beragama."

Tetapi Muhammad Haleem, 25, percaya pemilihan umum presiden dan propinsi akan menawarkannya kesempatan untuk memilih seseorang yang dapat membawa demokrasi yang sebenarnya.

"Saya akan memberikan suara saya kepada orang yang menjaga Islam dan negara," katanya menegaskan. "Ia mengizinkan kita untuk menentukan nasib kita."
(IOL/sal/voa-islam)


latestnews

View Full Version