View Full Version
Kamis, 03 Mar 2011

Gaddafi Siap Masuki Dialog dengan Osama bin Laden

DUBAI (Berita SuaraMedia) – Dalam sebuah pidato yang mengudara pada Rabu, Presiden Libya, Moammar Gaddafi menyalahkan Al-Qaeda atas semua kerusuhan yang terjadi di negara kaya minyak tersebut, dan mengatakan bahwa ia siap untuk memasuki sebuah dialog dengan kelompok yang dipimpin Osama bin Laden tersebut.

Gaddafi yang kekuasaan 42 tahunnya tersebut membuatnya menjadi penguasa yang menjabat paling lama di Afrika, membayangkan cerita pihaknya sendiri atas kerusuhan di Libya dan mengatakan bahwa kerusuhan tersebut dimulai di kota terbesar ketiga di negara tersebut, Bayda, di mana sebuah sel teroris masuk ke negara tersebut secara bertahap dari Afghanistan dan Irak, hanya kemudian untuk memulai mengeksekusi orang-orang dengan "gaya Zarqawi" dengan atas nama ekstrimisme.

Ia mengatakan bahwa Al-Qaeda mengambil alih Bayda sebagai titik mulai mereka dan berpindah untuk menyebarkan teror sepanjang perjalanan ke Benghazi di mana mereka mulai menerapkan jam malam pada orang-orang, yang sekarang menurut dirinya meminta pertolongan dari pemerintahan Libya untuk menyingkirkan Al-Qaeda di kota-kota mereka.

Presiden Libya yang bersumpah untuk bertempur "sampai pria dan wanita terakhir", mengatakan bahwa ia siap untuk membahas perubahan kosntitusional dan reformasi hukum, namun tanpa menggunakan kekerasan dan bahwa ia akan memberikan amnesti kepada mereka yang memutuskan untuk membubarkan persenjataan mereka. Ia mengatakan bahwa intervensi asing apapun akan mengorbankan ribuan nyawa Libya.

Ia juga mendesak PBB dan NATO untuk menginvestigasi fakta tentang apa yang terjadi di Libya, dan mengatakan bahwa ia melihat sebuah konspirasi untuk kolonisasi, mempermalukan Libya, dan merebut minyak.

"Saya tantang Anda untuk menemukan bahwa para pemrotes tersebut terbunuh. Di Amerika, Perancis, dan di manapun, jika orang-orang menyerang penyimpanan militer dan berusaha untuk mencuri persenjataan, mereka akan menembak mereka," ia mengatakan dalam sebuah pidato.

Ia mendesak PBB dan NATO untuk "membentuk komite penemuan fakta" untuk menemukan berapa orang terbunuh, menambahkan bahwa ia melihat sebuah "konspirasi untuk mengendalikan minyak Libya dan tanahnya."

Presiden Libya yang sebelumnya disebut "berhalusinasi" oleh laporan-laporan media mengatakan "semua" rakyat Libya mendukungnya, dan mengatakan bahwa ia "terkejut" bahwa Dewan PBB mendasarkan resolusi terkahirnya pada laporan-laporan yang berasal dari kantor berita yang terletak di luar Libya.

"Kami terkejut betapa sekutu dapat memberikan resolusi semacam itu terhadap Libya," ia mengatakan.

Majelis Umum PBB, secara bulat menunda keanggotaan Libya di dalam Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada Rabu, dan tiga hari lalu, Dewan Keamanan PBB meloloskan sanksi terhadap rejim Libya, keluarganya dan para pejabat ternama, embargo senjata dan menyerukan kejahatan terhadap penyelidikan kemanusiaan.

Presiden Libya tersebut mengatakan bahwa gajinya hanya $793 (975 dinar), di samping laporan yang mengindikasikan bahwa asetnya berjumlah milyaran dolar.

Sementara memberikan pidato tersebut, para penonton meneriakkan slogan pro Gaddafi mengatakan "pengkhianat keluar, dan revolusi berlanjut" dan "Hanya Allah, Gaddafi dan Libya."

Gaddafi membantah bahwa ada banyak protes di Libya, dan mengatakan bahwa hanya ada satu demonstrasi di Benghazi, dan dalam sebuah upaya untuk dengan sepenuhnya menyalahkan Al-Qaeda atas kerusuhan tersebut, ia mengatakan "Qaeda tidak melakukan demosntrasi atas tuntutan mereka."

Ia mengatakan bahwa ia memimpin revolusi tahun 1969, dan memberinya kekuasaan kepada rakyat melalui pembentukan Komite Rakyat pada tahun 1977, dan kemudian ia beristirahat di tendanya.

"Saya tidak memiliki posisi untuk mengundurkan diri," ia mengatakan, merujuk pada Komite Rakyat yang pada komite tersebut ia mengklaim bahwa komite tersebut memberikan otoritas kepada rakyat Libya untuk menguasai negara tersebut melalui sistem "demokrasi langsung" yang ia garisbawahi dalam Buku Hijau miliknya yang terkenal.

"Kami menempatkan jemari kami di mata mereka yang meragukan bahwa Libya dikuasi oleh siapaun dari pada rakyatnya."

Presiden Libya mengatakan bahwa ladang minyak di produser OPEC aman namun perusahaan asing merasa gelisah karena adanya penjahat.

"Ladang minyak aman … namun banyak perusahaan takut," ia mengatakan, menambahkan bahwa mereka merasa takut akan "penjahat bersenjata."

Gaddafi yang menyombongkan bahwa "semua orang mendukungnya" dan bahwa ia "dicintai" di negaranya mengatakan bahwa di samping perusahaan Eropa di ladang minyak Libya, produsen OPEC akan membawa perusahaan India dan China.

Ia juga mengatakan bahwa Dunia Arab iri hati terhadap Libya dan kekayaan minyaknya yang mencapai terendah di seluruh "kesanggupan" untuk mengkompensasi tuntutan minyak dunia atas penuruanan produksi Libya.

Diperkirakan bahwa Arab Saudi memompa sekitar 9 juta bpd dan telah berbagi kapasitas sekitar 3,5 juta bpd, seorang senior sumber Arab Saudi mengatakan.

Eropa adalah konsumen yang paling terpengaruhi oleh gangguan ekspor minyak Libya.

Sekitar 32 persen minyak tersebut diekspor ke Italia, 14 persen ke Jerman, 10 persen ke China dan Perancis dan 5 persen ke AS.

Sekitar 13 persen diekpsor ke timur Terusan Suez ke Asia.

Para pembeli telah mengatakan bahwa penurunan tersebut bisa ditutupi oleh sumber-sumber alternatif seperti Nigeria dan Azerbaijan, yang memproduksi minyak mentah ringan yang sama dengan minyak Libya. (ppt/aby) www.suaramedia.com


latestnews

View Full Version