

Seorang Syaikh Mesir, Khalid el-Gendy mempertanyakan mengapa wanita yang dilucuti oleh tentara berada di tempat pertama, dalam komentarnya pada program berita al-Qahira al-Youm pada 19 Desember lalu dan meminta para penonton untuk mengajukan pertanyaan sebelum menyerukan adanya permintaan maaf dari militer.
"Wanita yang ditelanjangi, saya ingin mengatakan bahwa kita semua menolak itu dan kita semua mengutuknya," katanya dengan tegas.
"Tapi ada pertanyaan lagi, siapa yang membiarkan dia keluar di jalan dan mengapa dia ada di sana, dan masih banyak pertanyaan lainnya. Dan sebelum kita meminta permintaan maaf dari siapapun, kita semua berutang permintaan maaf," ujarnya.
Syaikh el-Gendy merujuk seorang wanita yang menjadi headline di media lokal dan internasional setelah ia tertangkap video secara brutal dipukuli oleh tentara, bahkan bajunya terlecuti sehingga menampakkan bra-nya.
Syaikh el-Gendy menegaskan bahwa Islam adalah solusi dan berkata "kita perlu penerapan Syariah Islam untuk mengendalikan apa yang terjadi di negara ini."
Dia juga memberikan ucapan belasungkawa bagi mereka yang meninggal, tapi menyatakan "lebih besar" kesedihannya atas pembakaran gedung ilmiah.
Dia mengatakan para pengunjuk rasa bertindak "barbar" dan dialog tidak ada dalam kamus mereka.
El-Gendy, yang awalnya seorang guru matematika, dan menjadi kaya dari bisnis telepon Islami, mengatakan sebelum menyalahkan atau menunjuk jari pada orang-orang yang membunuh, "kita juga tahu bahwa beberapa orang melanggar hukum dan melanggar kode-kode sosial.
"Kita membutuhkan definisi dari kata "Syahid", kata ini adalah suci," katanya, sembari menyatakan keberatannya untuk menyebut salah satu demonstran yang mati dengan istilah "syahid," pada saat aktivis demonstran menggelar rekannya yang tewas dengan sebutan itu.
"Ini bukan salam pembuka di pesta pernikahan atau nama panggilan," tegasnya.(fq/bikyamasr)