View Full Version
Ahad, 14 Dec 2014

Ahli Bom Al-Qaidah Asal Prancis Diberitakan Selamat dari Serangan Udara AS

WASHINGTON (voa-islam.com) -  Seorang mujahid asal Prancis yang menjadi ahli bom di Kelompok Khurosan yang berafiliasi dengan Al-Qaidah, David Drugeon, diyakini selamat dari serangan udara AS terhadap kendaraan yang ditumpanginya di Idlib Suriah pada November lalu.

Berita ini disampaikan para pejabat AS kepada CNN menyusul informasi terbaru yang mereka terima yang mengarah kepada hal tersebut.

Laporan CNN tentang Drugeon adalah hasil kolaborasi dengan surat kabar Prancis L'Express. Intelijen menunjukkan Drugeon terluka parah dalam serangan pesawat tak berawak pada kendaraannya pada bulan November lalu dan segera dibawa untuk perawatan di lokasi yang para Jihadis yakin sangat aman, L'Express melaporkan Rabu (11/12/2014).

Informasi terbaru itu sebagian didasarkan pada pemantauan komunikasi Al-Qaidah dan Khorasan, dalam tambahan untuk intelijen manusia, kata pejabat itu. Informasi awal setelah serangan di Idlib, Suriah, membuat  intelijen AS menilai bahwa mungkin Drugeon telah gugur. Tapi data intelijen terbaru merubah penilaian itu.

Laporan CNN bulan lalu menunjukkan, pengetahuan Drugeon tentang bahan peledak, latar belakang Eropa dan akses ke para mujahidin Barat membuatnya bisa dibilang salah satu anggota yang paling berbahaya dalam jaringan global Al-Qaidah.

Drugeon lahir pada tahun 1989 di lingkungan di pinggiran Vannes di pantai Atlantik dari Brittany, menurut Eric Pelletier reporter dengan L'Express yang ekstensif melaporkan Drugeon dan menyampaikan temuan dengan CNN.

Menurut laporan itu, Drugeon memiliki masa kecil yang sangat normal. Ayahnya adalah seorang sopir bus dan ibunya seorang sekretaris dan taat pada Katolik.

Dia memiliki kakak laki-laki yang keduanya menyukai tim sepak bola Prancis Olimpyq  Marseille dan ia mendapat nilai-nilai bagus di sekolah. Tapi perceraian orangtuanya ketika ia berusia 13 tahun membuatnya traumatis.

Drugeon mulai beraksi keluar, dan nilai-nilainya di sekolah terpuruk. Dia mulai bergaul dengan sekelompok pemuda Muslim di lingkungan yang menganut interpretasi fundamentalis Islam. Sebelum berumur 14 tahun ia memutuskan untuk menjadi muallaf dan mengubah namanya menjadi Daoud.

"Drugeon diradikalisir selama beberapa tahun. Seorang imam lokal memainkan peran penting. Dia adalah bagian dari kelompok sekitar setengah lusin Muslim Salafi di kota tersebut," Pelletier kepada CNN.

Pada tahun 2010, Drugeon masuk layar radar layanan keamanan Prancis dan telah membuat beberapa perjalanan ke Mesir untuk belajar bahasa Arab dan lebih banyak tentang Islam. Dia mendanai perjalanan tersebut dengan bekeja mengemudi. Pada bulan April tahun yang sama, ia menyelinap pergi dari Prancis untuk selamanya, perjalanan melalui Kairo menuju wilayah kesukuan Pakistan, untuk bergabung dengan jihad melawan pasukan AS di Afghanistan. (st/cnn)


latestnews

View Full Version