View Full Version
Rabu, 21 Aug 2013

Muslim Irian Syukuri Kemerdekaan, Tak Ingin Berpisah dari NKRI

Sukabumi (voa-islam.com) – Pada 17 Agustus 2013 lalu, santri Al Fatih Kaffaah Nusantara (AFKN) yang dipimpin oleh Ustadz Muhammad Zaaf  Fadzlan Rabbani Al-Garamatan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 di Villa Alamanda, Pasir Kuda, Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Jambore Nasional yang digelar sejak tanggal 12-18 Agustus 2013.

Ustadz Fadzlan Garamatan yang asli Fakfak itu kembali menegaskan, NKRI bagi komunitas Muslim Irian adalah sesuatu yang final. Komitmen ini akan selalu dijaga. "Muslim Irian akan menjadi benteng bagi NKRI.

Ketika ditanya, apa arti merdeka bagi rakyat Irian? Ustadz Fadzlan menjawab, merdeka itu adalah cerah, cerdas, dan berarti di masyarakat. Para pahlawan sudah menghantarkan negeri ini sebuah negeri yang merdeka dari belenggu penjajahan Belanda dan sekutunya. “Kita harus mensyukurinya. Jika dibandingkan saudara-saudara di Aborijin, mereka dimatikan pelan-pelan oleh Australia. Begitu juga di Morosby.”

Kata Ustadz Fadzlan, miras yang diberi kepada generasi Nuuwaar adalah bentuk pembunuhan  karakter. Generasi ini jga mau dimatikan pelan-pelan. Jika kemerdekaan ini tidak mencerahkan diri, dan beranggapan merdeka harus sebebas-bebasnya maka itu pola pikir yang salah.

Disadari, ketidakadilan dan penyimpangan kerap terjadi di negeri ini khususnya Irian. Namun, solusinya bukan menuntut merdeka seperti tuntutan OPM (Organisasi Papua Merdeka). “Pembangunan ini  tidak bisa sekaligus, melainkan bertahap. Sudah saatnya belajar dan berdiri secara mandiri,  jangan selalu meminta tanpa melakukan perubahan,” kata Fadzlan.  

Harapan yang sama juga dikatakan Badaruddin, salah seorang santri AFKN asal Bintuni. Arti merdeka, menurutnya adalah damai - sejahtera, dan tetap menjaga persatuan. “Kami berharap Indonesia tidak ada lagi korupsi. Terutama sekali di Irian. Karena itu masalah pendidikan dan kesehatan harus menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Saat ini diakui masyarakat Irian masih belum sejahtera. Padahal Irian itu kaya dengan sumber daya alamnya, namun rakyatnya tetap miskin,” ujar Badaruddin yang aktif sebagai paskibra.

Tentang saudara Irian yang ingin merdeka, melepaskan diri dari Indonesia, dikatakan santri Nuuwar berkulit gelap dan rambut keriting itu, keinginan itu tidak tepat. Ketidakadilan bukan dengan cara berlepas diri dari NKRI.

Sementara itu, Direktur Pembianaan Teritorial Angkatan Darat, Kolonel Utoh Zaendy saat memberi sambutan di depan santri Nuuwar berpesan, sebagai anak bangsa, hendaknya janganlah kita berpecah belah. Jadilah rakyat Indonesia yang bersatu dalam bingkai NKRI.

“Sering kita dengar adanya pertengkaran antar kampung di sejumlah daerah di Tanag Air. Hal itu tentu saja akan merusak tatanan persatuan dan kesatuan. Meski kita terdiri dari berbagai macam suku, adat,  agama dan budaya, hendaknya kita bersatu padu. Kalian santri Nuuwar sebagai calon pemimpin di masa depan, hendaknya menjaga persatuan dan tidak berpecah belah,” ujarnya semangat.

Dikatakan Kolonel Utoh, kita adalah negara yang besar, meliputi Sabang hingga Merauke. Karenanya, ia mengajak umat Islam dan rakyat Indonesia untuk saling bahu membahu, tolong menolong dalam kebaikan. Jangan karena persoalan sepele, kita bertengkar dengan sesama saudara sebangsa dan seagama.

“Agama Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap santun, saling menghargai. Karena itu jangan mau terpancing dengan hal-hal yang bisa memicu perpecahan bangsa,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, selama Jambore Nasional, santri AFKN akan melakukan tadabur alam dan  mendapatkan materi berupa tauhid, motivasi dan pembangunan pola pikir serta karakter. Diharapkan santri dapat mengamalkan 17 kemuliaan yang menjadi orientasi AFKN.

Adapun 17 kemuliaan itu adalah menyayangi sesame, berlaku jujur, bertanggungjawab, menegakkan disiplin, berlaku adil, berkolaborasi dan bersatu, meningkatkan kreativitas, belajar dan berilmu, menjunjung tinggi kebenaran, mencegah kemungkaran, menjaga perdamaian, membangun kemandirian, mencerahkan dan mencerdaskan, membuka diri, menjunjung tinggi kesucian, mensyukuri nikmat, berlaku sabar. [desastian]

 


latestnews

View Full Version