View Full Version
Sabtu, 18 Jul 2009

Muslim Champa (Kamboja) di Amerika Serikat

Muslim Kamboja telah berada di Santa Ana, California, sekitar 30 tahun lalu, dibantu warga Arab Muslim, mereka berkembang dan berhasil membangun Masjid mereka sendiri. Kota Santa Ana di California merupakan rumah bagi ratusan penduduk asli Kamboja, sebuah kelompok masyarakat yang pertama kali tiba sekitar 30 tahun silam setelah menyelamatkan diri dari wilayah Khmer Merah, sebagai bukti kesetiaan mereka terhadap Islam.

 
“Islam telah menjadi jalan hidup kami”, Ghazaly Salim, seorang pemasang telepon, yang menghabiskan waktu luangnya di Masjid, menuturkan kepada Los Angeles Times. Kelompok tersebut terkenal akan sifat saling tolong-menolong mereka.

“Hal tersebut adalah apa yang nenek moyang kami ajarkan, agar membantu sesama”, kata Ghazaly, yang turut mengembangkan kelompok tersebut 30 tahun silam.

Masyarakat Kamboja merupakan bekas Kerajaan Champa, yang kini telah menjadi Vietnam. Namun seiring bertambah kuatnya Kerajaan Khmer dan desakan dari pemerintahan Vietnam, Kerajaan Champa semakin terdesak ke Selatan dan mulai menghilang.

Agama asal masyarakat Champa adalah Hindu yang dibawa langsung dari India, namun para saudagar Arab yang saat itu berada di Vietnam sebelum mencapai daratan Cina mulai menyebarkan Islam sehingga sebagian besar penduduk Champa merupakan Muslim.

Saat ini, masyarakat Kamboja tidak memiliki kampung halaman. Dan kelompok masyarakat mereka yang terhitung sebanyak ratusan orang telah mengungsi keseluruh Asia dan dunia.

Meski demikian, masyarakat Kamboja masih terlihat sebagai “bentuk kasar” Islam di Vietnam. Berkembangnya kelompok Kamboja untuk pertama kalinya adalah ketika mereka berjuang membangun Masjid di Santa Ana sekitar tiga dekade lalu.

Selama tiga tahun, mereka dibantu Muslim Arab disana untuk mengembangkan usaha mereka, dan lambat laun mereka telah sanggup membeli sebuah apartmen yang akhirnya dirubah menjadi Masjid.

Selama bertahun-tahun berikutnya, Masjid tersebut menjadi pusat kegiatan umat Muslim Kamboja di Santa Ana.

Namun beberapa anggota kelompok, dianggap sebagai penyimpang dari kelompoknya. Nasia Ahmanth contohnya. Ketika dia masih bayi, ayahnya yang bernama El Ahmanth adalah salah satu pelopor pergerakan mengungsi ke Santa Ana. Namun ketika menginjak usia 17 tahun, Nasia telah menjadi seorang pemakai narkoba.

Dua tahun lalu, dia memutuskan untuk pindah rumah, dimana dia mencari wilayah yang jauh dari teman-teman pemakainya. Tahun lalu, ketika ayahnya meninggal, Nasia memutuskan untuk pulang kekampung halamannya dan menjalin silaturahmi dengan keluarga lainnya.

“Saya ingin kelak anak saya mengetahui sejarah nenek moyang mereka”, kata Nasia yang kini berusia 30 tahun.

Dia tahu salah satu cara untuk memperbaiki diri dan untuk diterima dalam komunitasnya lagi adalah dengan mendalami kembali ajaran agama yang telah lama ditinggalkannya.

Nasia mendapat kesempatannya untuk bergabung kembali dengan kelompoknya ketika bulan Ramadhan datang. “Inilah bulan dimana para orang tua menjadi bangga terhadap anak-anaknya”. (IOL)


latestnews

View Full Version