View Full Version
Senin, 13 Feb 2012

Konjen RI Bersyukur Bisa Pulangkan 27 TKW dalam Keadaan Tak Bernyawa

HONG KONG (voa-islam.com) – Gaduh dan tegang mewarnai acara dialog antara BMI (Buruh Migrant Indonesia) atau TKW Hong Kong dengan Teguh Wardoyo, perwakilan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong. Dialog di gedung lantai satu Ramayana pada Ahad (12/2/2012) itu dimulai pukul 12.00 waktu setempat dan ditutup pada pukul 13.30. Massa dalam dialog membubarkan diri sebelum ditutup oleh jajaran konsulat.

Dalam dialog tersebut, Teguh Wardoyo membeberkan data kematian dan kasus yang menimpa BMI. “Alhamdulillah, 27 jenazah BMI berhasil kita urus kepulangannya selama tahun 2011, 25 agen kita bekukan, dan 120 majikan kita blacklist untuk tidak bisa mengambil pembantu asal Indonesia lagi. Sedangkan kasus yang masuk sebesar 1274 kasus,” terangnya.

Massa agak gaduh ketika Teguh Wardoyo menyebut kata syukur “Alhamdulillah” saat memberikan info pemulangan jenazah.

Berbagai BMI yang tergabung dalam LSM dan ormas Islam nampak tegang ketika sejumlah tuntutan mereka tidak diberikan respon. Sementara Teguh Wardoyo berkali-kali mengeluhkan dirinya dihujat-hujat oleh BMI. Para BMI menilai keluhan ini sebagai kalimat asbun. “Sebagai seorang pemimpin harusnya siap dihujat dan lapang dada, bukan justru lebay curhat,” ujar salah seorang peserta kesal.

Dalam kesempatan itu, BMI mempersoalkan berbagai peraturan buatan konsulat yang dinilai sangat menyulitkan dan merugikan BMI. Aturan baru itu antara lain; pemberlakuan kontrak mandiri, mencabut sistem online, mengumumkan nama agen-agen yang telah di blacklist, dan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN). “Semua aturan ini meresahkan BMI dan lebih banyak memberi keuntungan agen,” ujar salah seorang BMI.

Dengan suara lantang, seorang BMI asal NTB mengecam KTKLN sebagai kartu setan. “Saya BMI asal NTB, jika cuti pulang ke tanah air butuh waktu lama dibanding BMI Jawa, karena pulau kami harus ditempuh dengan transportasi laut. Jika masa cuti hanya beberapa hari, maka waktu kami akan habis untuk membuat kartu setan ini,” ujarnya berapi-api.

Menurut Eni, seorang aktivis LSM, dialog itu bertele-tele dan tidak mendapat kesimpulan penting atas tuntutan BMI. Dengan sangat berani ia mengkritisi ketidaktegasan Konsulat. Akhirnya Eni memimpin massa agar membubarkan diri dan keluar dari ruangan. Setelah itu, seluruh massa benar-benar pergi meninggalkan ruangan. Para BMI ini merasa enggan mematuhi konsulat dan memilih keluar sebelum acara ditutup.

Di antara aktivis BMI itu, terdapat seorang TKW pro konsulat yang mengecam sikap para BMI. Rahayu, mantan ketua IPMH yang pernah mengaku bergabung dengan rumah makan “Berkah” marah besar dengan sikap BMI. Dengan ketus ia mencela dan melecehkan massa yang berjilbab. [J. Spears]


latestnews

View Full Version